JASSER AUDA MAQASID AL SHARIAH PDF

Publisher: International Institute of Islamic Thought IIIT April Pages: Binding: Paperback Description from the publisher: In this pathbreaking study, Jasser Auda presents a systems approach to the philosophy and juridical theory of Islamic law based on its purposes, intents, and higher objectives maqasid. For Islamic rulings to fulfill their original purposes of justice, freedom, rights, common good, and tolerance in today s context, Auda presents maqasid as the heart and the very philosophy of Islamic law. He also introduces a novel method for analysis and critique, one that utilizes relevant features from systems theory, such as, wholeness, multidimensionality, openness, and especially, purposefulness of systems. This book will benefit all those interested in the relationship between Islam and a wide variety of subjects, such as philosophy of law, morality, human rights, interfaith commonality, civil society, integration, development, feminism, modernism, postmodernism, systems theory, and culture.

Author:Meztimi Vudomi
Country:Iran
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):12 March 2006
Pages:220
PDF File Size:16.48 Mb
ePub File Size:2.79 Mb
ISBN:122-3-17851-656-5
Downloads:1356
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Dirisar



Abstrak Tulisan ini merupakan kajian terhadap pemikiran maqasid Jasser Auda. Maqasid sendiri merupakan tujuan yang ingin dicapai melalui penerapan agama dengan basis memaksimalkan maslahah dan meminimalisir mafsadah. Originalitas pemikiran maqasid Auda terletak pada pergeseran paradigma shifting-paradigm dan pengembangan maqasid melalui a system approach yang ia lakakukan. Ini dikembangkan Auda, karena melihat teori maqasid klasik yang cenderung individual, kaku, sempit, bahkan terkesan hierarkis.

Auda menggeser maqasid klasik yang coraknya protection perlindungan dan preservation penjagaan menjadi development pembangunan dan human right hak-hak manusia. Di samping itu, Auda juga medekati maqasid dengan fitur-fitur sistem yang ia buat: cognition,wholeness, openness, interrelated-hierarchy, multidimensionalituy, dan porposefulness.

Eksistensi sebuah fitur terletak pada kebermaksudannya purposefulness; al-maqasidiyah. Kata kunci: maqasid, a system approach, development, human right A. Pendahuluan Salah satu intelektual-muslim modern —tanpa menafikan intekletual lainya —yang concern terhadap pengkajian maqasid adalah Jasser Auda. Dalam bahasa Auda, ada dua faktor yang melatarbelakangi pemikiran maqasid-nya, yakni adanya krisis kemanusian ajmah insaniyah dan minimnya metode qushur manhazhiy untuk menyelesaikannya.

Belum lagi adanya aksi-aksi teror, yang mengatasnamakan hukum Islam in the name of Islamic law? Berangkat dari realitas ini, kemudian Auda melihat ada sesuatu yang bisa ditawarkan kepada dunia, yang dalam hukum Islam sebenarnya jarang disentuh dan dikembangkan, yaitu konsep maqasid syariah.

Akan tetapi, ia juga harus realistis, bahwa menawarkan konsep maqasid apa adanya --sebagai faktor kedua-- merupakan upaya sia-sia. Hal ini, tidak lepas dari corak maqasid lama yang kaku, sempit, dan heararkis, pada tataran tertentu justru tidak memberikan efek positif terhadap perkembangan Islam umumnya, dan hukum Islam khususnya.

Berangkat dari situ, Auda menggunakan maqasid syariah sebagai basis pangkal tolak filosofi berpikirnya dengan penggunakan pendekatan sistem sebagai metode berpikir dan pisau bedah analisisnya. Selain memperbaharui teori maqasid lama, Auda juga menyajikan fakta sejarah, bahwa hukum Islam adalah lahir dari Al-Quran dan Hadis.

Penafsiran dan ijtihad terhadap kedua sumber tersebut melahirkan dinamika kecenderungan, yang ia sebut: era tradisionalis, modern, dan post-modern. Di era post-modern ini dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia perlu proses dialogis. Proses dialogis yang dimaksud adalah adanya tegur sapa antara bangunan dasar cara berpikir umat manusia humanities di satu sisi dan bangunan dasar cara berpikir keagamaan Islam ulum al-din di sisi yang lain.

Dengan adanya proses dialogis di atas, maka mau tidak mau, setiap orang harus bersentuhan dengan metode filsafat rasional dan metode sains empiris sekaligus. Dengan latar belakang di atas, pertanyaan yang menjadi bahasan dalam tulisan ini adalah: bagaimana konsep maqasid syariah dengan a system approach yang dicanangkan oleh Jasser Auda? Pertanyaan pokok ini berbicara dalam ranah: 1 maqasid syariah sebagai tujuan hukum Islam; dan 2 teori sistem system theory.

Jika dipecah lagi, maka maqasid syariah sebagai metodologi; a system approach sebagai analisis; dan mendekati maqasid syariah dengan a system approach sebagai pengembangan teori. Dengan demikian, tulisan ini berbicara dalam tiga tingkatan: metodologi; analisis; dan pengembangan teori. Biografi Jasser Auda Sekarang 1. Sebagai seorang yang dilahirkan pada keluarga yang taat beragama, sejak kecil dia sudah terbiasa dengan ilmu-ilmu keislaman tradisional. Ditambah lagi, dia hidup di sebuah negeri yang dalam sejarah peradaban Islam dikenal sebagai negara yang iklim akademik, sumber pengetahuan keagamaan —yang dalam banyak hal telah melahirkan pemikir- pemikir hebat —tidak diragukan lagi.

Jasser Auda adalah intelektual muslim yang dalam dirinya bersentuhan dengan dua tradisi sekaligus: barat dan timur; tradisional dan modern. Sejak muda, Jasser sudah terbiasa mengaji secara tradisional di Masjid Al- Azhar, yang memungkinnkanya bisa mengakses pemikiran-pemikiran turast klasik.

Di samping belajar secara tradisional di masid Al-Azhar, ia sekaligus kuliah di jurusan ilmu komunikasi, Cairo University, Mesir, pada tingkat strata satu dan dua. Karir Intelektual Dalam memperkayaan corak pemikiran, Jasser Auda tidak hanya berpuas diri haya mendapat pengetahuan dari Mesir saja, akan tetapi, dia juga mendapat 3 gelar B. Ia memperoleh gelar Ph. Dan gelar Ph. D yang kedua diperoleh dari university of Wales, Inggris, pada konsentrasi Filsafat Hukum Islam tahun Dia menjadi dosen mata kuliah hukum Islam, filsafat, dan materi yang terkait dengan isu-isu minoritas Muslim dan kebijakan di beberapa negara di seluruh dunia.

Dia adalah seorang kontributor untuk laporan kebijakan yang berkaitan dengan minoritas Muslim dan pendidikan Islam kepada Kementerian Masyarakat dan Dewan Pendanaan Pendidikann Tinggi Inggris. Selain itu, ratusan tulisan dalam bentuk jurnal, tulisan media, kontribusi tulisan di 3 Jasser Auda, Al-Maqasid Untuk Pemula, terj. Lihat juga website: www.

Di antara karyanya adalah:5 1. Melihat latar belakang beliau seperti di atas, ada yang menarik dari Jaser —tentunya ini sangat berpengaruh terhadap produk pemikirannya, terutama dalam konteks pengembangan teori maqasid — untuk diperhatikan, yaitu: pertama, dia hidup di tengah-tengah era kontemporer, di tengah-tengah arus deras era global sekarang ini.

Kedua, dia datang dari belahan dunia Eropa, namun mempunyai basis pendidikan Islam tradisional dari negara yang berpenduduk Muslim.

Ketiga, Jasser Audah adalah salah satu intelektual minoritas Muslim yang hidup di dunia Barat, di wilayah mayoritas non-Muslim. Keempat, Jasser Auda mempunyai kemampuan untuk mendialogkan dan mempertautkan antara paradigma Ulumu al-Din, al-Fikr al-Islamiy dan Dirasat Islamiyyah kontemporer dengan baik dengan Dirasat 5 Untuk melihat semua karya Jasser Audah, lihat website: www.

Tradisionalisme, Modernisme, dan Postmodernisme: Melacak Posisi Jasser Auda Untuk melihat pemikiran maqasid syariah Jaser Audah, terlebih dahulu dilihat di mana posisinya dalam peta pemikiran Islam. Hal ini terkait dengan a system approach yang ditawarkanya. Menurut Amin Abdullah, a system approach menghendaki perlunya mengusai dua approaches sekaligus secara profesional. Pertama, approaches yang terkait dengan dimensi waktu dan kesejarahan. Kedua, approaches yang berhungan dengan konsep dan pemikiran kefilsafatan.

Yakni, tradisionalisme, modernisme, dan post-modernisme Islam. Ada empat varian: a Tradisonalisme bermazhab scholastic traditionalism , dengan ciri berpegang teguh pada salah satu mazhab fikih klasik sebagai sumber hukum dan jarang menggunakan dalil yang mandiri.

Mereka membolehkan ijtihad —biasanya dengan qiyas — ketika sudah tidak ada lagi ketentuan hukum pada mazhab yang dianut. Ada beberapa jenis sikap terbuka yang diterapkan, mulai dari sikap terhadap seluruh mazhab fiqh 6 M. XIV No. Aliran ini merupakan aliran yang mengkritik rasionalitas modern dan nilai-nilai sentral Eropa yang dianggap bias dan penuh kontradiksi. Setidaknya ciri pokok aliran ini adalah adanya upaya mengintegrasikan pendidikan Islam dan Barat yang diperoleh oleh para tokohnya, untuk diramu menjadi tawaran baru bagi reformasi Islam dan penafsiran kembali.

Aliran ini ada lima varian, yang memiliki corak yang berbeda: a Reinterpretasi reformis reformist re-interpretation ; b Reinterpretasi apologis apologetic reinterpretation ; c Teori-teori berbasis maslahah maslahah- based theories ; d Revisionis usul usul revisionism ; dan e Re-interpretasi berbasis sains science-oriented re-interpretation. Beragam definisi diberikan oleh ahli terkait itu apa posmodernisme.

Bila dirangkum, posmodernisme merupakan kritik, koreksi, wajah arif, bahkan proyek modernisme yang belum selesai. Deconstruction dekonstruksi; pembongkaran merupakan tawaran dari Derrida sebagai ganti dari destruction penghancuran. Dekonstruksi berarti menata kembali dengan konsep dasar yang sama sekali baru. Meskipun ia tidak menyebut dirinya secara langsung berada pada kecenderungan mana, akan tetapi sesuai dengan analisis yang dia tawarkan — sebagaimana dijelaskan di bawah ini —akan kelihatan bahwa dia berada pada posisi pos-modernisme.

Artinya dengan fitur-fitur yang dia sebutkan pada a systems approach, dia menolak mendekati maqasid as-syariah hukum Islam ada umumnya secara parsial, atau hanya dengan mengandalkan metode deduksi, induksi, apalagi hanya berkutat pada bebarapa teks saja. Hal ini sesuai dengan semangat posmodernisme yang mengkritik grand design yang dibuat oleh modernisme.

A Systems Approach sebagai Pisau Bedah Analisis Seperti yang dijelas di atas, bahwa a system approach memandang susuatu secara holistik; dan terdiri dari sejumlah sub-sistem yang saling berhubungan. Dalam mendefinisikan sistem, Jaser meminjam definisi umum yang diberikan oleh Skyttner, yakni, sistem adalah serangkaian interaksi unit-unit atau elemen-elemen yang membentuk sebuah keseluruhan terintegrasiyang dirancang untuk beberapa 8 fungsi.

Pendekatan sistem mengkritik modernitas dengan cara yang berbeda dari cara yang biasa digunakan oleh teori-teori pos-modernisme. Katz, L. Kahn, D. Hitchings, D. Bowler, dan lain sebagainya. Fitur-fitur sistem yang diusulkan oleh Jasser adalah: 1. Kognisi Cognition; al-Idrakiyah Inti dari fitur ini adalah adanya pemisahan wahyu dan kognisi manusia;19 dalam konteks ini, fikih harus digeser dari klaim sebagai pengetahuan ilahiah menuju bidang kognisi manusia.

Hal ini sesuai dengan konsep fikih itu sendiri, bahwa ia adalah penalaran dan hasil ijtihad dari manusia terhadap nash sebagai upaya menangkap makna tersembunyi di dalamnya. Pemisahan ini akan berimplikasi terhadap cara pandang, bahwa ayat-ayat al-Quran adalah wahyu, tetapi interpretasi ulama atau faqih terhadap ayat-ayat tersebut bukanlah wahyu.

Dengan adanya pemisahan ini, tidak ada klaim, bahwa pendapat inlah yang paling benar dan paling baik. Karena semua interprtasi manusia terhada wahyu yang berbentuk teks tadi sifanya adalah subjektif. Dalam konteks kajian maqasid, dari fitur ini — sekalipun Auda tidak menyebutnya secara eksplisit —bisa dipahami, kenapa kemudian ia mengkritik konsep maqasid klasik.

Hal ini terkait dengan kecenderungan maqasid klasik yang dideduksi dari literatur-literatur fikih, bukan dari Al-Quran dan Sunnah. Utuh Wholeness; al-Kulliyah Dalam teori sistem memandang, bahwa setiap relas sebab-akibat adalah satu bagian dari keseluruhan, di mana setiap hubungan menghasilkan kemenyeluruh yang utuh. Hal ini sekaligus mengkritik cara kerja usul fikih klasik yang terkesan reduksionis dan otomestik. Ketika fitur ini dikaitkan dengan pengembangan teori maqasid, bisa dimaknai, bahwa dalam mencari maqasid sesuatu harus dilihat secara menyeluruh, bukan hanya satu atau dua ayat.

Keterbukan Openness; al-Infitahiyah Teori sistem membedakan antara sistem terbuka dan sistem tertutup. Dalam sejarahanya, fikih adalah sistem yang terbuka. Keterbukaan fikih ini bisa dilihat pada wilayah metodologinya, di mana para ushuliyyuun, mengembangkan bervariasi metode —di antaranya ada qiyas, istihsan, maslahah mursalah, sad al-zariah, dst —untuk menjawab problematika yang mereka hadapi yang terus bergerak.

Jika pada masa itu metode itu sudah memadai, maka untuk konteks sekarang, seorang mujtahid harus membuka diri untuk menerima berbagai macam keilmuan dalam memecahkan masalah. Selain membuka diri, setiap hasil ijtihad selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan perbaikan dan penyempurnaan. Dengan demikian, fitur ini menghenadaki adanya pendekatan interdisipliner, multi-disipliner, bahkan trans- disipliner untuk memecahkan berbagai persoalan kontemporer.

Hal yang sama juga berlaku dalam mencari dan mewujudkan maqasid. Auda ketika menjelaskan ini, berangakat dari klasifikasi yang dibuat oleh ilmu Kognisi Cognitive science. Dalam ilmu tersebut, ada 2 alternasi teori penjelasan menurut Auda tentang kategorisasi yang dilakukan oleh manusia, yaitu kategorisasi berdasarakan kemiripan feature similarity dan kategorisasi berdasarkan konsep mental mental concept. Dalam hal ini, Auda lebih memilih kategorisasi yang berdasarkan konsep untuk diterapkan pada usul-fikih.

Salah satu implikasi dari fitur 21 Ini adalah istilah yang disampaikan oleh Bapak Dr. Lain halnya dengan klasifikasi al-Syatibi yang menganut feature smilarity , sehingga hirarkhinya bersifat kaku. Konsekwensinya, hajiyyat dan tahsiniyyat selalu tunduk kepada daruriyyat. Contoh penerapan fitur Interrelated —hierarchy adalah baik salat daruriyyat , olah raga hajiyyat maupun rekreasi tahsiniyyat adalah sama-sama dinilai penting untuk dilakukan. Hal ini akan terlihat pada penjelasan sub-bab di bawah.

Cara pandang satu dimenasi kan mengakibatkan banyak kontradiksi-kontradisi. Inilah yang selama ini menimpa hukum Islam, sehingga mengakibat adanya istilah taarud al-adillah.

Dengan fitur multi-dimensionalitas, konsep taarud al-adillah selama ini bisa diselesaikan.

DBX DRIVERACK PA MANUAL PDF

Jasser Auda

.

HANDBUCH VERFAHRENSTECHNIK UND ANLAGENBAU PDF

.

KANOODLE INSTRUCTIONS PDF

.

CHAPMAN PILOTING SEAMANSHIP & SMALL BOAT HANDLING PDF

.

Related Articles